1. Madura

MUTIARA NASEHAT DALAM SALOKA MADURA (Saloka 141 – 150)

SALOKA 141

MÈTTHA’ BURU’ È JHÂLAN RAJÂ/
MÈTTHA’ BURI’ È TENGNGA LORONG

Artinya:
Menampakkan dubur di tengah jalan raya

Isi nasehat :
Perilaku seseorang yang suka membuka aib sanak keluarganya ,
maka dirinya juga ikut menanggung rasa malu.

Banyak perilaku seseorang yang memiliki kebiasaan membuka aib orang lain telanjur membuka aib keluarga besarnya sendiri.Rupanya ia tidak sadar bahwa hal tersebut sekaligus berarti membuka aib dirinya juga


SALOKA 142

MANGKOLÈT AKANTHÂ KOLÈ’NA LABÂNG

Artinya :
Mengelupas seperti ḍâun pintu

Isi nasehat :
Orang yang bandel dan tidak mau dinasehati.

Perumpamaan orang yang keras kepala amat sulit menerima nasehat.Biasanya suka memaksa agar orang lain menuruti kemauannya.Orang yang tidak sepaham dengan dirinya dianggap musuh.Egonya sangat tinggi dan sulit berkompromi dengan pendapat orang lain.


SALOKA 143

GHENTANG NONGNGEP

Artinya :
Terlentang dan tengkurap

Isi nasehat :
Seorang lelaki dan seorang perempuan bersaudara menikah dalam waktu yang bersamaan.

Masa datangnya jodoh adalah kehendak Tuhan,tidak selalu didahului dengan urutan dari yang lebih tua dan diakhiri oleh yang paling muda. Bisa saja berurutan sebaliknya,dimulau dari yang paling muda.Keunikan juga muncul jika kakak beradik lelaki dan perempuan menikah dalam hari yang sama sesuai benar dengan perumpamaan ini.


SALOKA 144

GHENḌHÂK BÂRÂNGKA

Artinya :
Congkak bagaikan warangka keris
( warangka tanpa keris ibarat ruang hampa dan kurang berarti)

Isi nasehat :
Dikatakan kepada seseorang yang berwatak sombong padahal dirinya tidak memiliki kecakapan apa-apa.

Dalam pepatah sering kita kenal ” Tong kosong nyaring bunyinya “.Sombong banyak bicara biasanya tsk berilmu dan tidak memiliki kecakapan.


SALOKA 145

GHENḌHÂNG ÈTABBHU SALAJÂ

Artinya
Perumpamaan gendang yang ditabuh sebelah

Isi nasehat :
Suatu perkara perselisihan yang hanya memeriksa satu pihak .

Seorang penengah atau mediator seperti hakim yang hanya memeriksa penggugat tanpa memeriksa tergugat adalah sangat tidak adil,karena bersikap berat sebelah.


SALOKA 146

GHENḌHÂNG TA’ ASIḌÂ’

Artinya :
Gendang yang kulitnya tidak kencang

Isi nasehat :
Perumpamaan bagi seseorang yang tidak kuat bekerja kantaran masih belum makan.

Suatu gambaran bahwa orang bisa bekerja jika memiliki energi atau tenaga.Sementara tenaga membutuhkan kalori yang berasal dari asupan nutrisi dari makan dan minum.
Tanpa makan dan minum tubuh tidak memiliki tenaga sebagai modal untuk bekerja


SALOKA 147

GHENTHONG NYARÈ CANTHÈNG

Artinya :
Ibarat gentong nencari gayung

Isi nasehat :
Guru mencari murid

Pada masa lalu ketika kesadaran akan pendidikan sangat rendah,para guru terpaksa harus mencari calon murid untuk bersekolah menelusuri jalan di pelosok kampung.Berbeda dengan sekarang calon murid harus mencari guru dan sekolah dengan aturan yang cukup ketat.


SALOKA 148

GHENTHONG ÈKAROBHUT CANTHÈNG

Artinya :
Gentong dikerubuti gayung

Isi nasehat :
Orang tua yang yang sangat dibutuhkan para anak cucunya.

Gambaran orang tua yang menjadi pengayom,pelindung,serta memberikan rasa teduh bagi anak cucunya . Menjadi tempat meminta nasehat bagi semua keturunannya..


SALOKA 149

GHENTHONG NYELLO’ KA CANTHÈNG

Artinya :
Bagaikan gentong menciduk gayung

Isi nasehat :
Orang tua yang menumpang makan kepada anaknya.

Setelah orang tua tak kuat lagi mencari nafkah untuk keperluannya sendiri sudah sewajarnya menjadi tanggung jawab anaknya untuk mencukupi kebutuhan makan minum,pakaian dan kebutuhan lainnya. Bagi seorang anak perbuatan ini adalah bentuk balas budi dan kewajiban mulia sebagaimana orang tuanya telah merawat dirinya sejak dalam kandungan.Perumpamaan ini tidak mengurangi rasa hormat dalam posisinya sebagai orang tua yang sudah tiba waktunya dicukupi kebutuhannya oleh anaknya.


SALOKA 150

GHÂ-RAGHÂ OḌÂNG

Artinya:
Meraba -raba mencari udang

Isi nasehat :
Perumpamaan seseorang yang mecari suatu benda yang belum diketahui tempatnya atau asal mencari-cari saja.

Di antara sikap orang disiplin dan bertanggungjawab adalah meletakkan benda yang sudah digunakan untuk dikembalikan lagi ke tempat semula.
Sebaliknya jika asal meletakkan maka sering kebingungan dan asal mencari ke beberapa tempat yang tak pasti manakala benda itu dibutuhkan lagi.

Oleh  R.Tg. Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo ,S,Pd.,M.Pd.,M.M.,C.NS

Comments to: MUTIARA NASEHAT DALAM SALOKA MADURA (Saloka 141 – 150)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.