1. Madura

MUTIARA NASEHAT DALAM SALOKA MADURA (Saloka 201 – 210)

SALOKA 201

CÈTHAK GHUNḌHUL ÈKEPPETTÈ

Artinya :
Kepala gundul dikipas-kipas

Isi nasehat :
Perumpamaan orang yang telah berada di zona nyaman masih ditambah kenyaman lagi.

Jika seseorang memang bernasib untung, terkadang ada saja tambahan keberuntungan lainnya yang hinggap secara tak terduga menambah lagi kesenangan yang sudah dinikmatinya.


SALOKA 202

ḌÂNGḌÂNG ABULU MERRAK

Artinya :
Bagaikan burung gagak berbulu merak

Isi nasehat :
Perumpamaan seseorang rakyat jelata yang meniru perilaku seperti orang besar.

Gambaran ini memberikan sedikit sindiran kepada gaya hidup seseorang yang tidak sesuai dengan kondisi dirinya cenderung memaksakan diri meniru penampilan orang lain .Ada yang meniru penampilan orang kaya,orang berpangkat tinggi,artis idola dan lain- lain padahal dirinya dari kalangan tidak mampu.Penampilan melebihi batas kewajaran ini pasti mengundang reaksi negatif dari orang sekitarnya yang sekarang viral dengan sebutan ” lebay” atau berlebihan.Istilah jaman dulu ” bâghita ” artinya sangat tidak pantas ,berlebihan dan mencolok.


SALOKA 203

ḌING-TA’ MANGÈḌING BÂNNÈ TÈNGEL

Artinya :
Pura-pura tidak mendengarkan tapi bukan tuli

Isi nasehat :
Perumpamaan sikap seseorang yang berlagak diam bukan berarti tidak tahu apa-apa.

Orang pendiam tidak selalu identik dengan orang bodoh atau tidak mengerti apa-apa.Ada kalanya sikap diam itu adalah suatu strategi untuk lebih banyak berpikir dan hemat bicara. Menunggu saat ,tempat ,serta situasi yang tepat untuk bertindak.Mirip taktik sedikit bicara banyak bekerja.


SALOKA 204

ḌU’-NONḌU’ BANNÈ KABERRÂ’ÂN ÈLONG

Artinya :
Menunduk bukan karena hidungnya terasa berat

Isi nasehat :
Pendiam bukan berarti tidak tahu

Jangan sekali-sekali berburuk sangka terhadap orang pendiam.Pendiam jangan diartikan tidak mengetahui. Orang pendiam memang lebih banyak kesempatan berpikir dari pada waktu berbicara.Dia hanya berbicara memilih pada saat yang tepat.


SALOKA 205

EGGHUNG KODHU ÈTABBHU

Artinya :
Gong harus ditabuh

Isi nasehat :
Perumpamaan menghadapi orang pendiam maka lawan bicaranya yang harus aktif berbicara.

Orang pendiam biasanya baru merespon dan berkomentar bila ada stimulus dari orang lain.Baru bereaksi bila dipancing dengan aksi pembicaraan orang lain.Cara yang paling jitu adalah sering membuka dialog dengan kalimat tanya agar dia bisa menjawab atau buka suara.,bukan kalimat berita.Jika dipancing dengan kalimat berita biasanya dia hanya menjadi pendengar saja.
Jika pendiam dihadapi dengan cara pendiam juga maka suasana akan mirip acara mengheningkan cipta saat upacara bendera.Tentu suasana pergaulan menjadi hambar dan tanpa ekspresi serta sangat menjemukan.


SALOKA 206

MAN-ÈMAN TA’ KADHUMAN

Artinya :
Perumpamaan sesuatu tang disimpan dan disayang-sayang tetapi akhirnya tidak dapat bagian.

Isi nasehat :
Suatu sindiran halus untuk seseorang yang terlalu menyayangi sesuatu yang berlebihan pada akhirnya dia sendiri tidak mendapatkan apa-apa dari usahanya itu.

Seperti menyimpan makanan kesukaannya yang terlalu disayang ketika lengah justeru menjadi basi sehingga ia sendiri tidak bisa memakannya.Terlalu sayang dan sangat memanjakan kekasihnya tapi si dia justeru menikah dengan orang lain.


SALOKA 207

ÈTÈK AMOSO BÂLIBIS

Artinya:
Bagaikan itik melawan belibis

Isi nasehat :
Ditujukan kepada dua orang yang sama-sama pintar yang bermusuhan , tapi salah satunya tampil sebagai pemenang.

Bagaimanapun hebatnya kepintaran seseorang pasti memiliki titik lemah yang akan dibidik sang lawan.Apalagi sang lawan yang dihadapi pintar juga.
Cepat atau lambat pasti ada
pemenangnya.


SALOKA 208

GHI’ ABÂU BHÂBÂNG

Artinya:
Masih berbau bawang

Isi nasehat :
Masih sangat belia/ belum dewasa

Suatu gambaran terhadap anak muda yang yang masih belum dewasa. Kondisi kejiwaannya masih sedang proses transisi menuju remaja akil balik.Perilakunya terkesan lugu .Baru belajar bergaul dengan komunitas sesama remaja dan masyarakat di sekitarnya .Perlu bimbingan dan pengawasan dari orang tua,guru dan orang dekatnya.Kasih sayang,perhatian,
perlindungan,orientasi,dan,pengenalan norma sangat mereka butuhkan agar jiwanya stabil menapak usia dewasa.


SALOKA 209

GHI’ TA’ COLPAK BUJHELLÂ

Artinya:
Belum lepas tali pusarnya
( Pada bayi yang baru dilahirkan saat minggu pertama)

Isi nasehat:
Dikatakan kepada seorang bayi / anak yang sangat muda atau usia dini

Secara konotatif adalah sebuah gambaran usia anak yang sangat membutuhkan pendidikan awal, bimbingan,perhatian ekstra dari kedua orang tua dan dan keluarga dekatnya. Pada usia ini orang tua harus masuk ke dalam dunia anak, bukan memaksakan anak bersikap meniru seperti orang tua. Dunia anak adalah dunia bermain, manja, melawan,rindu puja,meminta perhatian,butuh kasih sayang dan perlindungan.


SALOKA 210

GHI’ BELLUN ÈLANG POPOGGHÂ

Artinya :
Masih belum hilang popoknya
( Popok dalam tradisi merawat bayi di Madura adalah ramuan herbal yang dihaluskan dicampur sedikit air yang ditempelkan pada ubun-ubun bayi yang baru dilahirkan)

Isi nasehat :
Gambaran yang ditujukan kepada anak atau bayi yang baru dilahirkan atau anak kecil

Secara konotatif jargon ini sering pula digunakan sebagai sindiran terhadap sikap orang yang masih sangat muda yang selalu berlagak serba tahu seperti orang tua.Dalam pribahasa lain setara dengan sebutan cuma ” anak kemaren sore “

Oleh  R.Tg. Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo ,S,Pd.,M.Pd.,M.M.,C.NS

Comments to: MUTIARA NASEHAT DALAM SALOKA MADURA (Saloka 201 – 210)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.