Peribahasa, Bebasan dan saloka (dalam bahasa Indonesia tidak ada bebasan dan saloka, adanya peribahasa) sebenarnya ketiganya termasuk golongannya kata kiasan (entar), karena ketiganya sama mengandung arti kiasan.
Bedanya peribahasa da bebasan dan saloka dengan kata kiasan, kata-katanya tidak tetap. contohnya:
Peribahasa : yatna yuwana, lenakena. kata-katanya tidak satupun boleh diganti
Bebasan : Nyanggoni kawula minggat. Kata-katanya juga tetap seperti itu, tidak boleh dirubah umpamanya, nyangoni batur minggat, nyanggoni kawula lunga. itu semua tidak boleh.
Saloka : kebo bule mati setra. kata-katanya tidak boleh diganti. Umpamanya : Kebo bule mati disate. Sapi abang mati njekangkang. Semua itu tidak bisa diganti
Kata Kiasan lentar :
Gedhe atine. Katanya salah satu bisa diganti umpamanya: cilik atine. walaupun perkataan cilikatine itu tidak sama artinya dengan gedhe atine. malah bearti sebaliknya, tetapi perkataan cilik atine juga masih dinamakan tembung entar (kata kiasan).
Sebaliknya peribahasa, bebasan dan saloka, kalau ada kata-katanya yang diganti dengan kata lain, akhirnya tidak lagi disebut peribahasa, bebasan, atau saloka lagi. Contoh tembung entar (kata kiasan) yang lain gedhe endhase. Gedhe Rejekine. Gedhe tekade. Landhep atine. Landhep pangrasane, Landhep pikire
- Paribasan (Peribahasa)
Peribahasa , perkataan yang tetap penggunaanya mengandung arti kiasan (entar), tidak mengandug perumpamaan. Contohnya yatna yuwana, lenakena (Orang yang berhati-hati akan selamat, orang yang tidak berhati-hati akan celaka).
itu satu-satunya sama tidak mengandung perumpamaan hanya ada kata-kata lain yang sama artinya dengan kata-kata itu yaitu:
Yatna (berhati-hati) = weweka, yitna, ngati-ati (berhati-hati)
Yuwana (Selamat) = basuki, rahayu, slamet (selamat)
Lena = Pepeka, orang ngati-ati (tidak berhati-jati)
Kena = ketaman ing bebaya (celaka)
Peribahasa itu juga sering sekali terdapat didalam kesusasteraan. Contohnya
Rembang gambuh (Wulang reh PBW)
Wonten paneapanipun adiguna adigang adigung pan adigang kidang, adiung pan esthi, adiguna ula iku,telu pisan mati samyah
Ada pembicaraan kesombongan, mengandalkan ilmunya, kekuatannya, keluhurannya kijang mengandalkan kekuatannya, Gajah mengandalkan keluhurannya, Ular mengandalkan kepandaiannya, ketiganya akhirnya mati semua.
Siladang ambegipun ngedelaken kebat lompatipun, dan si gajah ngedelaken gung ainggil, si ula ngendelaken iku mandine wisa yen nyakot
Kesombongan si kijang mengandalkan kecepatan jalannya, si gajah mengandalkan besar tingginya, si ular mengandalkan itu, Mandinya upas kalau menggigit
Perkataan Adigang, Adigung, Adiguna itu penggunaannya tetep seperti itu, dan tidak mengandung pengertian perumpamaan. Oleh karena itu perkataan itu termasuk peribahasa. Adigang = mengandalkan kekuatannya, kekuasaanya, kadigdayannya,
Adigung = Mengandalkan keluruhurannya
Adiguna = Mengandalkan kepandaiannya (ilmunya, pengetahuannya,kelebihannya)
Adigang (kekuatan), sikap kidang, mengandalkan kecepatan, kecepatan larinya
Adigung(Keluhuran), sikap gajah, mengandalkan besar badannya
Adiguna (kepandaian), sikap ular, mengandalkan mandi upasnya
Paribasan (Peribahasa) itu jumlahnya banyak.
contohnya antara lain
- Undhaking warta, sudaning kiriman, berita itu biasanya bertambah dari kenyataannya, tetapi pengiriman biasanya berkurang.
- Durung pecus keselak besus durung sembada, Belum punya kemampuan, sudah berkeinginan yang bermacam-macam umpamanya, belum pandai, sudah berkeinginan untuk mempunyai istri
- Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan wong liya, orang lain (bukan saudaranya), tetapi kalau terjadi kesengsaraan, pasti ikut menanggung segala sesuatunya
- Sedumuk bathak, sanyari bumi, sengketa perkara tanah dan wanita, biasanya dibela sampai titik darah penghabisan (mati)
- Kuncung nganti gelung, (Mulai masih kecil sampai menjadi dewasa)
- Obah ngarep, kobet buri (Kalau orang menjadi pemimpin mau bekerja keras , orang bawahannya tentu selalu mengikuti jejaknya)
- Kineban lawang tobat (tak cukup waktu, dalam tak bisa mendapat pengampunan dari Tuhan)
2. Bebasan
Bebasan (dalam bahasa indonesia tidak ada) perkataan yang tetap penggunaannya mengandung arti entar (kiasan), mengandung arti perumpamaan, yang diumpamakan keadaannya atau sifatnya orang-orangnya juga termasuk didalam perumpamaan itu, tetapi yang diutamakan keadaanya tingkah lakunya orang itu disebutkan ada didepan bebasan, sering dimuat didalam kesusasteraan. bukan kesusasteraan yang terikat dalam kalimat terurai saja, melainkan juga yang termuat didalam tembang. Contohnya :
Dhandhanggula
Nadyan julig lakune wong maling
nora wurung bakal kuwanguran
yen wis bebak sundukahe
temah camah tinemu
saturune dipun cireni
sinarang para rowang
den dehi sadulur
Marma poma aywa padha
Laku juti wasanane neniwasi
Kebak rubed rubeda
Walaupun pandai (untuk kejahatan) tingkah laku pencuri
Akhirnya akan ketahuan
Kalau sudah banyak kesalahannya
Sulit untuk diperbaiki
Seluruh keturunannya dicireni
Disingkang-siangkang semua orang
Dijauhi oleh masyarakat
oleh karena itu jangan sama
Berbuat jahat yang akhirnya mencelakakan diri
Banyak masalah yang menggoda
Perkataan “Wis kebak sundukane” disebut bebasan, berisi perumpamaan keadaan orang yang sudah banyak kesalahannya yang sudah diketahui. Bebasan itu jumlahnya banyak sekali sepertinya sulit dihitung. Contohnya antara lain :
- Nabok nyilih tangan. Melakukan perbuatan jahat dengan cara menyuruh orang lain
- Sudut gunting tata loro, Melakukan perbuatan hanya satu macam salah. akhirnya membuat kesalahan lebih dari satu macam
- Beras wutah arang malih marang takerane. Sesuatu hal yang sudah berubah jarang-jarang pulih kembali dengan baik seperti semula
- Nututi Layangan pedhot. mencari kembalinya barang remeh yang sudah hilang, seumpama ketemu tidak sesuai dengan jerih payahnya
- Nitipake daging saerep. (Perkataan orang tua menyerahkan.putrinya kepada pria yang memperistrinya)
- Nyunggi lumpang kentheng (Mendapatkan wanita darah aluhur/pejabat, yg bermaksud mencari perlindungan ,tapi tidak seimbang dengan beratnya tanggungan )
3. Saloka
Saloka, perkataan yang tetap penggunaannya mengandung arti entar (kiasan), mengandung pengertian perumpamaannya, yang diumpamakan orangnya. oleh karena itu perkataan yang berisi perumpamaan orang (barang) terletak di depan.
Contohnya :
Asa belang kalung wang Asa, Perumpamaan orang Belang, Perumpamaan asor/derajat rendah, kere/ orang hina
Asa belang = orang derajat rendah
kalung wang = kaya uwang/sugih dhuwit, kaya harta benda
Asa belang Kalung wong = Orang asor/derajat rendah / kere tetapi mempunyai harta benda yang banyak /kaya raya Saloka juga sering ditemukan didalam kasusastreraan yang dimuat didalam tambang.
Contohnya:
Dhangdhanggula
Jamak Lumrah jaman demokrasi
keh lalakyan kang duk kuna-kuna
Arang-arang dadi luhur
Kang wus dhuwur dadi kawuri
wolak waliking jaman
Temen tinemu
Tunggak jarak padha mrajak
Tunggak Jati Padha Mati temah Dadi
Nampa Papan Kang papa (Padmosoekotjo)
Banyak kejadian pada jaman demokrasi
Banyak kejadian/peristiwa pada jaman kuna
Jarang-jarang terdengar
Rakyat jelata menjadi orang luhur/pejabat
orang luhur/pejabat menjadi orang rendahan/rakyat jelata
menjadi kebalikan jaman
sungguh-sungguh terjadi
Rakyat jelata meningkat pesat
Orang luhur akhirnya menjadi panah
Mendapatkan tempat yang hina (Padmosoekotjo)
- Tunggak Jarak, perumpamaan : orang rendah/rakyat jelata
- Mrajak, perumpamaan : ada keturuannya yang menjadi orang linuwih / luhur /pejabat Tunggak Jarak mrajak : keturunan orang rendahan/rakyat jelata menjadi orang luhur/pejabat
- Mati, perumpamaan : Cures, hilang tidak ada keturunannya yang menjadi orang luhur/pejabat
- Tunggak jati mati : Keturunan bangsa luhur/pejabat menjadi bangsa rendahan, rendah pangkatnya Tunggak jarak mrajak,
- tunggak jati mati = Keturunan rakyat Jelata berkembang pesat, keturunan bangsa luhur/ pejabat menjadi cures/rendah pangkatnya Saloka jumlahnya juga banyak. Contohnya antara lain.
- Sumur lumakh tinimba. Orang yang mengharapkan supaya dimintai menyumbangkan ilmunya/ guru mencari murid
- Kemladheyan ngajak Sempal. Sanak saudara/teman yang mengajak membuat kerusakan
- Kebo nusu gudel. Orang tua minta nasehat kepada orang yang tergolong muda kutuk merani sunduk. orang yang sengaja menghadapi kecelakaan
- Gajah ngidak rapah (Orang yang melanggar aturannya sendiri ).
- Macan guguh.(Orang besar ,walaupun sudah tidak punya kekuasaan ,tetapi masih kelihatan menakutkan).
Daftar Pustaka
- Padmosoekotjo S, 1958. ngengrengan Kasusastraan Djawa I, Tiap-tjapan kaping sekawan, Hien Hoo sing, Yogyakarta
- Poerwadarminta W.J.S, 1939, Baoesastra Djawo. Kaetjap ing pangetjapan J.B. Wolters Vitgevers, Maatschappij. N.V. Groningen Batavia
- Pangalaman pangimpun ana sesrawungan masyarakat kat jawa sedri-ari
No Comments
Leave a comment Cancel