SALOKA 151
GHÂDHEBBHUNG NGAJHÂK LOTTHO’
Artinya :
Ibarat batang pisang yang mengajak menjadi busuk
Isi nasehat:
Orang yang buruk tingkah lakunya
Perumpamaan perangai seseorang yang jahat ,selain dirinya berbuat jahat dia juga mengajak dan mempengaruhi orang lain untuk berbuat jahat juga sebagaimana yang diperbuat dirinya.
SALOKA 152
GHÂLTÈ’ SENGKANG ÈYONḌHÂ
Artinya :
Bagaikan mengundi gelatik yang kepalanya berbintik putih.
( Mengundi untuk menentukan gelatik yang kalah dan yang menang berdasarkan bintik putih di kepalanya)
Isi nasehat :
Mengajari dan mendidik seseorang yang telah tua.
Waktu mendidik dan mengajari seseorang lazimnya dilakukan mulai masa muda.Ada pepatah yang semakna dengan saloka ini ,” Belajar pada waktu muda bagaikan mengukir di atas batu ,belajar pada waktu tua bagaikan mengukir di atas air ).Sungguh upaya yang sulit sekali dilakukan.
SALOKA 153
BHÂNTHÈNG MATÈ BÂN NA’-KANA’ NGOWAN
Artinya :
Bagaikan seekor banteng yang mati dibunuh oleh penggembala.
Isi nasehat :
Orang kuat dikalahkan oleh orang biasa.
Seorang bangsawan yang posisinya salah, jatuh harga diri dan kehormatannya di hadapan seorang rakyat jelata yang posisinya benar
SALOKA 154
BIRÂ SAPAKANḌHÂNGAN OTABÂ TABÂRRÂ BIRÂ
Artinya:
Kadar ketawaran bagian mata keris yang tajam
Isi nasehat :
Seseorang yang kemarahannya belum hilang.
Dikatakn kepada orang yang masih terus nenerus bermusuhan tak pernah ada perdamaian setulus hati dan harus tetap saling waspada. Hal ini diumpamakan juga terhadap orang yang telah lama berseteru ,walaupun sudah saling menyapa harus saling hati-hati karena tidak mungkin lagi pergaulannya sebaik seperti sebelumnya.
SALOKA 155
BÂRÂS TA’ AJHÂMO
Artinya :
Sembuh tanpa minum jamu
Isi nasehat :
Perumpamaan terhadap seseorang yang pandai tanpa berguru.
Orang pandai tidak selamanya dicetak melalui lembaga pendidikan atau akademi.Ada orang yang memiliki potensi kecerdasan istimewa atau luar biasa secara otodidak yang tidak kalah dengan para sarjana.Kepandaian itu bisa berupa :
a. kecerdasan intelektual ( IQ)
b. kecerdasan emosional ( EQ )
c. kecerdasan natural.
d. kecerdasan matematis
e. kecerdasan spiritual
f. kecerdasan musik
dan lain-lain
SALOKA 156
BING-RAMBINGAN CÈNḌHI
Artinya :
Bagai kain perca dari sutera
Isi nasehat :
Seorang mulia atau priyayi walaupun miskin masih ada saja orang menaruh hormat atau menghargai.
Orang yang berbudi pekerti mulia, kaum priyayi,ulama dan sebagainya ,walau jatuh miskin sekalipun tetap dihormati orang .Seseorang yang nemiliki tatakrama apapapun keadaannya masih tetap menjadi orang yang dihormati siapapun
SALOKA 157
BING-RAMBINGAN KORRA’AN
Artinya:
Bagai kain bekas sampul Al Qur’an
Isi nasehat :
Orang sepuh yang wajib kita hornati.
Orang yang sudah sepuh walaupun sudah pikun harus kita hornati. Lebih utama lagi jika orang sepuh itu adalah orang tua kita sendiri.Menghormatinya adalah wajib secara mutlak tidak ada tawar menawar.Sedangkan menaatinya
harus didasarkan ukuran perintah Tuhan di dalam kitab suci.Andaikan orang tua menyuruh kita berbuat dosa,kita wajib menghormati dengan tidak nelawannya tetapi tidak wajib melaksanakan perintahnya.
SALOKA 158
BHU-ROBBHU ROCÈT
Artinya:
Mengalami roboh dan padam dengan digosokkan ke tanah
( salah satu cara memadamkan obor adalah dengan menggosok-gosokkan bara apinya ke tanah)
Isi nasehat:
Dikatakan kepada basib seseorang yang pada awalnya beruntung dan mulia,tetapi pada akhirnya mengalami kehinaan atau kenistaan,
Seseorang yang mabuk kepayang dengan pujian,sanjungan, dan kehormatan sering lupa diri lantaran berkubang dalam maksiat dan bersikap melampaui batas sehingga akhirnya jatuh ke jurang kehinaan.Perumpamaan ini sesuai juga dengan keadaan orang kaya raya yang pelit hidup bergelimang kesenangan yang berakhir jatuh miskin papa.
SALOKA 159
BILU’ ṬANGKAR
Artinya :
Tulang iga sapi yang bengkok
Isi nasehat :
Perumpamaan bagi watak seseorang yang nenyimpang dibanding dengan orang kebanyakan.
Perilaku yang menyimpang tentunya dutujukan kepada karakter orang bersifat negatif seperti tempramental, tidak jujur,penakut,sinting dan lain-lain.
Sikap tercela pada diri seseorang sudah cukup dijadikan dijadikan alasan sebagai penyimpangan tingkah laku.
SALOKA 160
BILÂ’ BÂLUN TOMPANG CANḌHÂNA
Artinya :
Matanya sudah tertutup kapas dan cendana.
(Seseorang yang sudah mati antara lain usai dimandikan ditandai kedua mata,mulut dan bagian lubang tubuh yang lain ditutup kapas dan cendana sebelum dibungkus, dishalati dan dimakamkan)
Isi nasehat :
Perumpamaan bagi orang yang sudah mati sebagai nasehat nyata.
Mati adalah bentuk nasehat nyata walau mngkin tanpa perlu diucapkan dengan kata-kata. Maksudnya bahwa semua manusia pasti mengalami mati,karena itu selama masih hidup berarti menanam di ladang amal baik untuk bekal di alam baka yang kekal abadi. Jadi kematian orang lain yag kita saksikan adalah peringatan keras bahwa hudup bukan main-main.Artinya kita pasti menyusul seperti mereka untk menghadapi kematian.
Oleh R.Tg. Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo ,S,Pd.,M.Pd.,M.M.,C.NS
No Comments
Leave a comment Cancel