1. Madura

MUTIARA NASEHAT DALAM SALOKA MADURA (Saloka 191 – 200)

SALOKA 191

AKAKANAN DHÂGHING BÂRÂS

Artinya :
Menggerogoti daging yang sehat

Isi nasehat :
Masalah yang merembet berakibat negatif kepada orang kain yang tidak ada kaitannya dengan nasalah yang sebenarnya.

Masalah yang semula dianggap urusan kecil ,jika melibatkan orang yang tidak bijak serta tanpa wawasan keilmuan sering bergerak liar merembet ke arah yang keluar dari konteks.Hal ini bisa saja menyasar pihak lain yang tidak terlibat masalah ikut menjadi korban.

SALOKA 192

AḌÂNTÈ’ NYÈLLEMMA GHÂBHUS

Artinya :
Bagai menanti gabus bisa tenggelam

Isi nasehat :
Menanti sesuatu yang belum tentu didapatkan.

Perumpamaan ini ditujukan kepada seseorang yang selalu berharap sesuatu yang belum tentu bisa diperolehnya.Selain sulit menjadi kenyataan ,penantian semacam itu sangat tidak berguna,karena menghabiskan tenaga,biaya waktu dan pikiran.Sebuah harapan tidak pasti yang biasanya berakhir sia-sia.


SALOKA 193

AJHÂGHÂI MACAN TÈḌUNG

Artinya :
Membangunkan macan tidur

Isi nasehat :
Perumpamaan perilaku seseorang yang
memanas-manasi orang pemberani dan berpengaruh yang sedang diam.

Seorang penakutpun apabila digugah kemarahannya akan bangkit melawan.
Binatang kecil yang dianggap memiliki kecerdasan paling rendah seperti serangga ( umpama seekor semut ) apabila eksistensinya terancam akan melakukan perlawanan.Apalagi seorang pemberani yang merasa tersinggung, tertantang, dan terusik pasti bangkit amarahnya, tentu akan melakukan perlawanan brutal.Tindakan menantang orang pemberani sama sekali tidak membawa mamfaat,tetapi mengundang malapetaka.


SALOKA 194

AḌIGÂNG AḌIGUNG AḌIGUNA

Artinya:
Mengandalkan kepintaran,kekuatan dan kekuasaannya.

Isi nasehat :
Jika seseorang sudah merasa pintar, merasa kuat dan merasa memiliki kuasa biasanya muncul perasaan sombong.

Orang lain dianggap tidak penting sedangkan dirinya terasa berada di atas angin.Dengan tiga kelebihan ini sulit sekali seseorang tidak menjadi sombong. Dengan kepintaran yang dimilikinya dia beranggapan orang lain itu lebih bodoh darinya.Dengan kekuatan yang dimilikinya maka orang kain dianggap lemah dan mudah ditaklukannya.Dengan kekuasaan yang dimilikinya maka orang lain dianggap bawahannya.Suatu sikap arogan yang dalam kaidah agama disebut orang takabur.Orang yang baik akan terap rendah hati meskipun memiliki tiga kelebihan tersebut.


SALOKA 195

BHÂPA’ BHÂBHU’ GHURU RATO.

Artinya:
Ayah,ibu ,guru dan raja.

Isi nasehat :
Ada urutan herarkis untuk orang yang harus kita hormati dan kita taati,yaitu dimulai dari kedua orang tua ( ayah dan ibu ),guru kemudian kepada pemerintah

Kedua orang tua kita yang menyebabkan kita lahir ke dunia, semua guru yang mewariskan ilmu yang bermamfaat dunia akhirat,serta aparat pemerintah yang memberikan wadah perlindungan hukum wajib kita hormati.
Adapun sepanjang perintah mereka sesuai norma agama,norma hukum dan tatakrama maka wajib kita taati.
Orang Madura sejak jaman dulu kepada pemimpin pemerintahan selalu menyebut “ratu / rato” ( istilah dari Bahasa Jawa kuno ) tidak menyebutnya ” raja ” (istilah dari Bahasa India) baik untuk penguasa pria maupun wanita.


SALOKA 196

BHÂSA NANTOWAGHI BHÂNGSA

Artinya :
Bahasa menentukan bangsa

Isi nasehat :
Dari bahasa yang digunakan sudah bisa ditentukan dari bangsa mana mereka berasal

Bahasa adalah salah satu identitas sebuah bangsa.Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa- bangsa untuk saling kenal mengenal.
Dengan mempelajari bahasanya kita akan mudah mengenalnya ,bisa bergaul
bahkan bisa saling bekerjasama.

SALOKA 197

BÂḌÂ PAKON BÂḌÂ PAKAN

Artinya :
Ada perintah harus ada makan /upah

Isi nasehat:
Barang siapa menyuruh orang lain seharusnya memberikan tanda terimakasih

Meskipun orang lain yang kita suruh tidak meminta imbalan tetapi kita harus tahu diri dan pandai beterima kasih kepada seseorang yang telah diberikan jasa kepada kita berupa tenaga,pikiran , dan waktu .Seandainya orang yang kita mintai tolong memang tanpa pamrih tetapi kita seharusnya tahu berterimakasih.Di sinilah kita bisa saling menjaga keseimbangan hubungan sosial


SALOKA 198

BÂḌÂ CATOR MONGKOR

Artinya :
Ada nasehat tapi membelakanginya

Isi nasehat :
Tidak mau mendengar nasehat atau petuah baik.

Suatu sindiran untuk orang yang enggan mendengarkan nasehat dari orang lain.Mungkin dirinya sudah merasa lebih pintar,merasa lebih berpengalaman merasa lebih alim, merasa pendidikannya lebih tinggi,atau merasa lebih tua.Sikap sombong yang tidak layak untuk ditiru.


SALOKA 199

BECCÈ’ KATÈTÈ SALA KATARA

Artinya :
Kebaikan akan terlihat, perbuatan salahpun akan tampak jelas

Isi nasehat :
Perbuatan yang baik maupun yang buruk tidak luput dari pengamatan yang selalu diingat orang lain.

Sekecil apapun perilaku baik buruk kita tak luput dari pengamatan orang lain. Kita tindak boleh lengah melakukan introspeksi pada diri kita,sebelum dan sesudah berbuat sesuatu .Perbuatan tercela yang kita anggap kecilpun bisa menjadi penyebab turunnya harga diri kita di mata orang lain,Jangan sampai nila setitik merusak susu sebelanga.


SALOKA 200

CANGKÈR KATÈNḌIYÂN PÈRÈNG

Artinya:
Bagaikan cangkir tertindih piring

Isi nasehat :
Kalah kuasa dari yang lebih senior.

Seseorang yang level strata sosialnya selalu kalah dengan yang memiliki kekuasaan.Kalah dalam hal pengaruh,
materi, status sosial,penampilan, wawasan dan lain-lain. Posisi dirinya masih berada di bawah bagai selalu tertindih.

Oleh  R.Tg. Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo ,S,Pd.,M.Pd.,M.M.,C.NS

Comments to: MUTIARA NASEHAT DALAM SALOKA MADURA (Saloka 191 – 200)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.