SALOKA 101
MARA KEPPET
Artinya :
Bagaikan kipas
Isi nasehat :
Orang yang sangat minim potensinya tetapi sangat besar semangatnya untuk meraih cita-citanya.
Sebuah kalimat pujian perlu disematkan kepada seseorang yang meskipun kurang pintar tapi memiliki daya juang dan semangat tinggi dari pada orang yang mengaku pintar tapi malas berusaha untuk memperbaiki kehidupannya demi masa depan.
SALOKA 102
MARA KOCÈNG AJHILAT COKKA
Artinya :
Seperti kucing menjilat cuka
Isi nasehat :
Perumpamaan seseorang yang tidak bermuka manis.
Suatu sindiran halus untuk orang jika berhadapan dengan orang lain selalu berwajah masam,cemberut,sangar, atau terlihat hambar tanpa ekspresi. Tampilan seperti ini menyebabkan orang lain malas untuk berhubungan atau bahkan menghindar bergaul dengannya.Sebaliknya orang yang selalu tampil dengan senyum manis pasti mudah diterima oleh siapapun.
SALOKA 103
MARA KONYÈ’ BÂN KAPOR
Artinya :
Bagaikan kunyit dan kapur
( Jaman dahulu sebelum ada cat tembok ,kapur cair yang dicampur cairan kunyit digunakan orang untuk mewarnai tembok,dinding bambu,atau dinding papan.).Kedua benda ini angat mudah bercampur atau larut.
Isi nasehat :
Dikatakan kepada sepasang suami isteri yang sangat rukun. Suami isteri yang rukun akan menjadi teladan bagi orang sekitarnya.Orang lain biasanya akan menganggap bahwa kondisi seperti itu akan melahirkan keturunan yang sopan santun penuh kasih sayang dan menjadi keluarga yang penuh ketenteraman.
SALOKA 104
MARA KOCÈNG ÈSANḌHINGÈ ḌHINGḌHING.
Artinya :
Bagai kucing disandingkan dengan dendeng.
Isi nasehat :
Seorang lelaki yang selalu didampingi perempuan ,lama-lama bisa jatuh cinta.
Meskipun pada awalnya tidak saling tertarik ,jika seorang lelaki dan perempuan sering berkumpul bersama atau sering berjumpa akhirnya bisa saling jatuh cinta
SALOKA 105
MARA GHÂLTÈ’ NEMMO PAḌI
Artinya :
Bagai gelatik menemukan padi
Isi nasehat :
Ibarat seseorang yang memperoleh keuntungan bisa menyebabkan perubahan tingkah laku dibanding sebelumnya.
Bertambahnya harta sering menyebabkan perubahan gaya hidup,
banyak rencana,banyak keinginan, mencari kesenangan bahkan lebih sibuk dibanding sebelumnya. Banyak yang lupa diri sehingga tidak mengenal batas waktu ,situasi dan kondisi.
SALOKA 106
MARA KETTHANG ACÈREK
Artinya :
Bagai kera bermain-main
Isi nasehat :
Seseorang yang bekerja masih sempat berbuat kegaduhan
Ini adalah gambaran sikap seseorang biarpun bekerja masih sempat merusak suasana,mengganggu orang sekitarnya, atau merusak ketenangan.Mestinya membangun kebersamaan dan kekompakan serta saling membantu manakala ada kesulitan.
SALOKA 107
MARA KEBBHÂ’ ÈNJHÂMAN
Artinya :
Bagai busur pengurai kapas hasil pinjaman
Isi nasehat :
Perumpamaan ini sangat cocok bagi orang yang banyak bicara tanpa henti,
tanpa mengenal lelah.
Orang yang banyak bicara biasanya tidak memberi kesempatan bagi lawan bicaranya untuk berkata apapun.Ia mendominasi perkataan dan orang lain hanya diperlakukan serta dianggap sebagai pendengarnya saja.Suasana pasti membosankan karena lawan bicaranya menjadi pasif.Sebuah perilaku yang tidak seimbang di dalam berkomunikasi
SALOKA 108
MARA RÂ’-DHERRÂ’ BÂBINÈ’
Artinya :
Seperti burung tekukur betina
Isi nasehat :
Seseorang yang bergaya sok pemberani
tetapi setelah digertak musuhnya nyalinya menjadi ciut.
Orang yang besar mulut biasanya sering sesumbar menatang orang lain untuk bertarung.Ironisnya bila bertemu musuh yang sepadan ternyata dia seorang penakut yang menutupi kelemahannya melalui gaya bicaranya.
SALOKA 109
MARA DHIN-DHADHIN ANYAR
Artinya :
Seperti hantu jadi-jadian orang yang baru meninggal
Isi nasehat :
Sindiran untuk seorang polisi yang baru diangkat,sudah bersikap sombong, bengis dan suka menganiaya.
Pada jaman dulu biasanya seorang polisi yang baru diangkat lagaknya meniru tentara kolonial( seperti Belanda dan Jepang ).Biasanya suka menakut- nakuti,tanpa senyum,berwajah sangar, dan suka menggertak.Ada kesan mereka sengaja mencari kesalahan. Meskipun sebenarnya sebagai pelindung masyarakat tapi umumnya sering menakut-nakuti masyarakat. Bahkan ada orang yang mengatakan ,” Dhâddhi jârângkong ghi’ ḍi’-oḍi’ ( sudah menjadi hantu walaupun masih hidup ).Yang lebih lucu lagi justeru polisi dijadikan alat peraga untuk menghentikan anak kecil yang sedang menangis ,” Kalau kamu tetap menangis, awas nanti saya bawa kepada Pak polisi !”
SALOKA 110
MARA TEKOS ÈKENNÈNG JHEBBHÂK
Artinya :
Orang yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi
Isi nasehat : Orang yang posisinya sangat lemah baik disebabkan penyakit fisik maupun psikhis sangat sulit melakujan ikhtiar. Demikian juga mereka yang dilanda
kemisinan,kefakiran,maupun kebodohan sering tak berdaya menghadapi tuntutan kehidupan, perlu uluran tangan sesama untuk mengentas mereka dari himpitan keterpurukan.
Oleh R.Tg. Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo ,S,Pd.,M.Pd.,M.M.,C.NS
No Comments
Leave a comment Cancel