1. Madura

MUTIARA NASEHAT DALAM SALOKA MADURA (Saloka 211 – 220)

SALOKA 211

GHI’ ABÂU JHÂRÂNGO

Artinya :
Ibarat masih berbau delingo
( Delingo adalah salah satu herbal yang bisa dibuat jamu untuk anak kecil yang sulit untuk makan )

Isi nasehat :
Perumpamaan yang ditujukan kepada orang belum dewasa.

Sikap yang menonjol pada orang yang disebut dewasa adalah sudah sanggup mengambil keputusan sendiri dan bertanggungjawab atas tindakannya itu.
Sementara apabila seseorang yang tidak bertanggungjawab atas tindakannya tetapi orang lain yang harus bertanggungjawab berarti masih berjiwa anak-anak atau belum dewasa walaupun usianya sudah tua.Secara biologis mungkin sudah tua tapi dari sisi psikologis masih belum dewasa.
Orang yang secara biologis dan secara psikologis belum dewasa tidak akan memiliki rasa tanggungjawab.Dalam kalimat sederhana orang jaman dulu sering nengatakan,” Barang siapa berani berbuat harus berani bertanggungjawab !!! “


SALOKA 212

JHÂJJHÂLÂNG NYANDHER KA DHÂMAR

Artinya :
Laron mendekat ke lampu

Isi nasehat :
Perumpamaan bagi orang yang pergi ke tempat yang membahayakan dirinya.

Pada umumnya orang pergi menuju suatu tempat hanya memenuhi target untuk segera mencapai tujuan belaka.
Sementara risiko di perjalanan yang menyangkut masalah kaselamatan kurang dipertimbangkan.Demikian juga dalam berbicara dan bertindak acapkali kurang mempertimbangkan dampak negatif atau bahaya mengancam dirinya.Ibarat menuju suatu tempat di seberang jalan raya harus melewati hiruk pikuk kendaraan yang bisa nengancam nyawanya.Bila tidak waspada berarti sama saja mendekat ke arena malapetaka.


SALOKA 213

KERRAS TA’ AKERRÈS

Artinya :
Keras tapi tidak berkeris

Isi nasehat :
Bersikap keras tapi tidak berwibawa

Perumpamaan seseorang yang sangat berambisi ingin menguasai orang lain atau suatu komunitas ,dengan cara keras dan kasar serta memaksakan kehendaknya.Sementara dirinya memang tidak memiliki aura wibawa seperti keteladanan di bidang akhlak, banyak menanamkan jasa,suka menolong ,rela berkorban, mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.Sikap arogan tersebut bukan wibawa tetapi menciptakan ancaman , ketakutan yang meresahkan yang bisa menyulut reaksi perlawanan.


SALOKA 214

KABHÂJHENGNGANNA TAO ATOLONG ABÂ’NA

Artinya :
Kerja kerasnya sempat menolong dirinya

Isi nasehat :
Orang yang pernah giat bekerja keras dan berjuang pantang putus asa pasti pernah merasakan sebagian hasilnya.

Ibarat seorang petani yang dulunya rajin menanam, pastilah pernah merasakan hasil panen. Semua hasil upayanya tak lain adalah untuk mempermudah mencukupi kebutuhannya di kemudian hari.


SALOKA 215

KATÈBHÂN ABU ANGA’

Artinya :
Ibarat dijatuhi abu hangat

Isi nasehat :
Tidak mengetahui apa penyebabnya mengapa dirinya menjadi sasaran.

Sebuah gambaran tentang akibat kecerobohan seseorang bisa mengorbankan orang lain yang yang tidak tahu apa-apa.Seperti seseorang yang mengemudikan kendaraan secara ugal-ugalan di jalan raya kemudian menabrak pengguna jalan ang ṭak bersalah.


SALOKA 216

KÈNCANA BINGKA

Artinya:
Bagaikan kinco ( isi pemanis) kue wingko

Isi nasehat :
Berperilaku baik ataupun buruk,jika itu adalah anak sendiri maka orang tua tetap menaruh kasih sayang.

Kasih sayang ayah dan ibu sebenarnya hampir tidak terukur kepada putera puterinya.Jangankan berakhlak baik, nakalpun masih tetap disayang.Jika nakal masih disayang semoga cepat jadi anak shaleh.Andaikan berwajah jelek tetap disayang ,mengapa sesaudara dia paling jelek,dsb.


SALOKA 217

KERBHUY KABERRÂ’ÂN TANḌU’

Artinya:
Bagai kerbau terlalu berat dengan tanduknya

Isi nasehat :
Perumpamaan bagi seseorang yang berasal dari status sosial rendah naik level menjadi orang yang memiliki banyak gelar kehormatan.

Sebuah gambaran yang di luar nilai rasa secara umum bila seseorang yang selama ini dianggap kasta kelas bawah baik dari sisi keturunan,harta,jabatan, kepandaian, dll. tiba-tiba terbalik naik ke permukaan memiliki status sosial, pangkat dan jabatan.Di samping pintar, dia itu tekun dan bekerja keras sehingga memiliki berbagai gelar akademik.Tidak semua orang bisa berjiwa besar untuk mengakui keunggulannya,terutama bagi siapapun yang posisinya merasa tersaingi maka dianggap ancaman. Mereka yang iri akan mengumpamakan bagai kerbau berat yang keberatan tanduknya.


SALOKA 218

LAGHHU KAḌHELLI,LEM-MALEM TÈMPÈ.

Artinya :
Pagi bagaikan kedelai sore bagaikan tempe

Isi nasehat:
Orang yang ucapannya tidak bisa dipercaya.

Seseorang yang memiliki pendirian yang berubah-ubah adalah sikap tidak konsekwen,tidak jujur atau tidak sportif.
Sebuah pepatah menyatakan ,” sekali lancung keujian seumur hidup orang tidak percaya”.Karakter seperti ini biasanya memiliki ciri khas :
-Bila berkata lain di mulut lain di hati,
tak bisa dipercaya
-Bila berjanji ia mengingkari
-Bila diberi amanat ia akan berkhianat.

Dengan semua fakta seperti ini sudah memenuhi syarat sebagai orang munafik.


SALOKA 219

MANOSSA COMA DHÂRMA

Artinya :
Manusia hanya sekadar berusaha

Isi nasehat :
Manusia sebatas hanya sanggup melakukan usaha, berikhtiar,berdoa,dan bertawakal.

Sehebat apapun manusia tidak mungkin bisa menentukan takdir .Karena takdir itu hak prerogatif Tuhan yang Maha Esa.Baik buruk menurut pandangan kita ,belum tentu cocok dengan kehendak dan maksud yang dikehendaki Tuhan.Dengan kalimat sederhana sering orang mengatakan ,”
manusia cuma berusaha Tuhanlah yang menentukan”.


SALOKA 220

MELLA’ MATANA GHERRÂNG

Artinya :
Bagaikan mata terbuka ( seolah dapat melihat ) pada ikan kering

Isi nasehat :
Dikatakan kepada orang yang pura-pura tidak melihat atau mengetahui sesuatu padahal dia sangat mengetahui hal itu.

Egoisme dan kesombongan pada diri seseorang menyebabkan sifat tinggi hati dan cenderung memandang orang lain dianggap sebelah mata.Biasanya enggan untuk menyapa orang lain lebih dahulu ,dia hanya menunggu disapa . Dia merasa dirinya jauh lebih penting dari pada orang lain,karena itu ia pura- pura tidak melihat orang lain.
Nasehat nenek moyang dahulu antara lain menyatakan bahwa tanda-tanda orang baik dalam hubungan sosial adalah: mengucapkan salam lebih dahulu,menyapa lebih dahulu, berjabat tangan lebih dahulu, menanyakan kabar lebih dahulu,senyum lebih dahulu, serta saat berjabat tangan tidak melepaskan lebih dahulu.Tanpa adanya tanda-tanda
seperti ini janganlah mengaku orang baik.

Oleh  R.Tg. Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo ,S,Pd.,M.Pd.,M.M.,C.NS

Comments to: MUTIARA NASEHAT DALAM SALOKA MADURA (Saloka 211 – 220)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.